Rabu, 29 November 2017

makalah: PROSES PENGINDRAAN, PERHATIAN, PENGAMATAN DAN PERILAKU

PROSES PENGINDRAAN, PERHATIAN, PENGAMATAN DAN PERILAKU
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sesuai dari katanya, bahwa psikologi terdiri dari dua kata yang mempunyai arti. Psikologi ini merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Diman ilmu ini sangat penting untuk kita pelajari sebagai Mahasiswa dan Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang akan di aplikasikan nanti kalau sudah masuk dunia mengajar ataupun terjun di dalam masyarakat. Perhatian pada psikologi yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman meraka sendiri. Maka bagaiman tentang perhatian psikologi umum.
            Penginderaan, perhatian dan pengamatan biasanya dilakukan oleh orang yang cerdas, terjadi terhadap suatu proses dengan maksud merasakan dan memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan.
Penanggapan itu umumnya penghajatan kembali bekas-bekas yang diteima dahulu dari Penginderaan, perhatian dan pengamatan yang sekarang digambarkan kembali dalam kesadaran.
Dalam makalh ini akan di bahas satu persatu tentang perhatian terhadap psikologi umum beserta Penginderaan, perhatian dan pengamatan.
B.     Rumusan masalah   
1.      Apa Pengertian Pengindraan        ?
2.      Apa Pengertian Perhatian             ?
3.      Apa Pengertian Pengamatan         ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui tentang pengindraan
2.      Untuk mengetahui tentang perhatian
3.      Untuk mnegetahui tentang pengamatan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengindraan
Sejak individu dilahirkan, ia langsung berinteraksi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya dan menggunakan alat indera dalam mengenali dunia luar. Dalam mengenali dirinya sendiri maupun keadaan sekitar sangat berkaitan dengan persepsi. Karena itu proses penginderaan tidak dapat lepas dari proses persepsi, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Proses penginderaan akan selalu terjadi setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat inderanya, melalui reseptornya. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca, 1965; Woodworth dan Marquis, 1957 dalam BImo Walgito, 1997).
Terkait dengan alat penginderaan dikenal pula konsep sensus yang dalam bahasa Indonesia sering dipadankan dengan rasa ataupun indera, tapi konsep rasa ini berbeda dengan perasaan (feeling).
Definisi penginderaan (sensation) menurut Wundt adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil.
Definisi penginderaan (sensation) menurut Wundt adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil.
Penginderaan meliputi  :
1.      Penglihatan
Alat penglihatan utama adalah mata. Rangsang berupa gelombang cahaya masuk ke dalam bola mata melalui bagian-bagian mata. Prosesnya cahaya masuk ke retina diteruskan berupa impuls menuju ke syaraf (otak) sehingga  objek dapat terlihat.
2.      Pendengaran
Alat pendengaran utama adalah telinga. Rangsang berupa gelombang suara masuk ke dalam telinga melalui bagian-bagian alat pendengaran. Bila seseorang tidak dapat mendengar, maka ada kemungkinan kerusakan pada pusat pendengaran yang menyebabkan gangguan fungsi intelek atau pada salah satu alat tempat berjalannya/penerus rangsang (conductive deafness) yang tidak ada hubungannya dengan fungsi intelek.
3.      Pengecap
Alat pengecap utama adalah lidah. Rangsang berupa larutan cairan melalui lidah (lingua) dan rongga mulut (cavumroris). Prosesnya adalah larutan/cairan diterima lidah masuk ke rongga mulut diteruskan nervus ke-9 menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak). Reseptor pada lidah ada 4 jenis penerima rangsang, yaitu : rasa manis, pahit, asin dan asam.
4.      Pembau
Alat pembau utama adalah hidung.  Rangsang berupa hawa/udara/bau melalui udara menuju ke reseptor yang ada di rongga hidung (cavum nasalis). Prosesnya adalah bau diterima oleh rongga hidung diteruskan oleh nervus ke-1 (saraf pembau) menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak).
5.      Perabaan
Alat perabaan utama adalah kulit. Rangsang yang diterima tubuh manusia dapat berupa rangsang : mekanis, thermis, chemis, elektris, suara, cahaya. Perabaan adalah ransang mekanis ringan pada bagian permukaan tubuh, khususnya yang tidak berambut seperti telapak kaki, bibir,dll. Reseptornya adalah corpuscula meissner dan corpuscula pacini.
B.     Perhatian
Aspek psikologis yang berkaitan dengan prilaku manusia adalah perhatian. Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perhatian adalah pemusatan energy psikis yang tertuju kepada objek –objek tertentu dan sangat dipengaruhi banyak atau tidaknya kesadaran yang menyertai aktivitas yang  dilakukan. Selain itu juga perhatian manusia sangat tergantung kepada luas atau tidak objek perhatiannya, terjadinya (timbulnya), intensitasnya, dan daya tariknya (perhatian).
Pertama, perhatian berdasarkan pada luas atau tidaknya menunjukkan bahwa perhatian dapat terjadi secara terpencar dan terpusat. Perharian terpencar ialah, perhatian yang terteju pada berbagai objek sasaran. Perhatian terpusat (konsentrasi) ialah perhatian yang tertuju kepada satu objek dan terbatas satu focus perhatian.
Keduan, perhatian berdasarkan timbulnya, yakni perhatian yang terjadi secara spontan dan perhatian dengan di sengaja. Perhatian spontan ialah perhatian yang timbul tanpa diinginkan. Sedangkan perhatian disengaja ialah perhatian yang timbul akibat adanya usaha-usaha untuk memberikan perhatian.
Ketiga, perhatian berdasarkan intensitasnya, dibedakan atas banyak atau tidaknya kesadaran yang menyertai kegiatan. Prinsipnya adalah semakin banyak kesadaran yang menyertai suatu kegiatannya, maka semakin intensip perhatiannya. Sebaliknya semakin sedikit kesadaran yang menyertai suatu kegiatan, maka semakin sedikit kesadaran yang menyertai suatu kegiatan, maka semakin sedikitnya yang menyertai kegiatan (makin tidak intensip perhatiannya).
Keempat, perhatian berdasarkan pada objek dan subjek perhatiannya. Perhatian menurut objeknya mengarah kepada kualitas objeknya,daya tarik objeknya, baru, asing dan menonjol. Kegagalan orang mencari hal-hal baru atau aneh akan selalu menjadi focus perhatian seseorang. Sementara dari sisi subjektivitasnya, maka yang menjadi perhatian adalah yang berkaitan dengan sisi fungsi, sudut kepentingannya, tingkat kebutuhannya, jenis kegemaran, pekerjaan, jabatan, sejarah hidup dan sebagainya.
C.    Pengamatan
Manusia mengeal dunia riel sekitarnya adalah dengan cara melihatnya, mendengarkannya, membaunya, ataupun mengecapnya. Cara mengenal objek yang seperti ini biasanya  disebut dengan proses mengamati, sedangkan ketika dia melihat, mendengar atau mengecap berarti adanya modalitas pengamatan. Hal-hal yang diamati itu akan dialami menurut waktu, jumlah, dan materinya. Dalam pengamatan biasanya dilukiskan menurut pengaturannya agar memungkinkan subjek melakukan orientasi (Suryabrata, 1989).
Adapun pengaturan tersebut meliputi :
a)      Pengaturan menurut tata ruang yang dulukiskan dalam pengertian atas bawah, kiri kanan, jauh dekat, tinggi rendah, dan sebagainya.
b)      Pengaturan menurut waktu yang dilukiskan sebagai pngertian masa lampau, masa kini, dan masa yg akan datang.
c)      Pengaturan menurut gestal, yakni pengaturan sebagai kebulatan arti, missal kata rumah, orang, kursi, dan sebagainya.
d)     Pengaturan menurut arti , yakni pengamtan terhadap objek-objek menurut arti-arti dari masing-masing individual, misalnya kata pabrik bias diartikan dar sudut kegiatannya, yakni sebagai tempat orang memproduksi barang atau sebagai kegiatan organisai.
Beberapa aspek psikologis yang berkaitan dengan pengamatan sebagai berikut:
1.      Penglihatan
Penglihatan ialah proses pengenalan kepada objek-objek luar melalui alat indra penglihatan terhadap suatu kesatuan bentuk, lambing, atau warna. Melalui penglihahatan seseorang akan mendapatkan arti dan kesan yang pada akhirnya akan membentuk suatu perilaku.  Berdasarkan pada objeknya, maka penglihatan dapat dikelompokkan atas tiga bagian, yakni penglihatan menurut bentuk, kedalaman, dan warna.
a)      Melihat berdasarkan bentuk
Melihat bentuk berarti melihat suatu objek yang berdimensi dua. Arti dari suatu penglihatan tidak dapat berfungsi jika kita melihat objek terpisah antara yang satu dan yang lainnya. Suatu penglihatan akan berarti jika kita melihat suatu objek secara bersamaan antarletak (posisi) dengan latar belakangnya, antara bagian-bagian dengan keseluruhannya, atau objek-objek pokok dan latar belakangnya yang sekaligus terjadi secara simultan setiap objek penglihatan akan membentuk gestal berdasarkan kedekatannya, ketertutupan, ataupun kebersamaan dari suatu objek.
b)      Melihat menurut kualitas kedalamannya
Melihat menurut kedalamannya berarti kita melihat objek-objek dari sudut pandang tiga dimensi. Salah satu gejala yang terpenting dalam melihat kedalaman ialah adanya konstansi besarnya objek, misalnya  saat kita meletakkan telapak tangan dengan jarak 20 cm dan 30 cm dari sudut pandang mata kita, maka akan terlihat sama besarnya. Atau saat kita menghampiri orang lain, hal ini menunjukkan bahwa bukan berarti tubuh orang itu semakin besar, namun jarak kita yang semakin dekat  dengan dia. Beberapa factor yang menyebabkannya yaitu:
Ø  Objek-objek yang dihadapi tidak akan terlihat sebagai fenomena-fenomena yang berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan satu sama lainnya.
Ø  Adanya prinsip proporsionalitas, yakni proporsi atau perbandingan antara benda-benda yang pada dasrnya adalah sama. Hal terlihat jelas saat benda di hilangkan maka konstansi besranya pun hilang.
c)      Melihat menurut warna
Melihat suatu objek berdasarkan warna akan berdampak terhadap suasana perasaan dan nilai lambang warna. Melihat warna berdasarkan aspek perasaan (afektif) berarti adanya reaksi atau dinamika emosional seseorang. Missal kita melihat warna hitam dapat memberikan suasana takut. Sedangakn melihat warna menurut nilai lambang berarti memberikan makna potensial bagi seseorang atau kelompok. Dalam batas lingkungan kebudayaan Indonesia, warna putih melambnagkan kesucian, cerah; warna merah melambangkan sifat-sifat ekspansif, riang, dan ringan; warna hijau memberikan makna keseimbangan, keselarasan, ketenangan, adanya pengharapan, dan sebagainya (Suryabrata, 1989).
D. Perilaku
A. Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon.
Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmojo, 2005).
Psikologi memandang perilaku manusia (Human Behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Berbicara tentang perilaku, manusia itu unik /khusus. Artinya tidak sama antar dan inter manusianya. Baik dalam hal kepandaian, bakat, sikap, minat, maupun kepribadian. Manusia berperilaku atau beraktivitas karena adanya tujuan tertentu. Dengan adanya need atau kebutuhan diri seseorang maka akan muncul motivasi/penggerak , sehingga manusia itu berperilaku , baru tujuan tercapai dan individu mengalami kepuasan. Siklus melingkar kembali memenuhi kebutuhan berikutnya atau kebutuhan lain dan seterusnya dalam suatu proses terjadinya perilaku manusia (Widyatun, 1999).
Sedangkan menurut Bandura, suatu formulasi mengenai perilaku dan sekaligus dapat memberikan informasi bagaimana peran perilaku itu terhadap lingkungan dan terhadap individu atau organisme yang bersangkutan. Formulasi Bandura berwujud B= behavior. E=environment, P=person,atau organisme. Perilaku lingkungan dan individu itu sendiri saling berinteraksi satu sama lain. Ini berarti bahwa perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, disamping itu perilaku juga berpengaruh pada lingkungan. Demikian pula lingkungan, dapat mempengaruhi individu (Walgito,2003).
B. Proses Pembentukan Perilaku
Menurut Walgito (2003), pembentukan perilaku dibagi menjadi 3 cara sesuai keadaan yang diharapkan, yakni:
1.      Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, maka akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut.cara ini didasarkan atas teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan oleh Pavlov maupun oleh Thorndike dan Skinner terdapat pendapat yang tidak seratus persen sama, namun para ahli tersebut, mempuntai dasar pandangan yang tidak jauh beda satu sama lain.
2.      Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)
Disamping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, pembentukan perilaku juga dapat ditempuh dengan pengertian. Cara ini didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai dengan adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen Kohler dalam belajar yang dipentingkan dalah pengertian. Kohler adalah salah satu tokoh psikologi Gestalt dan termasuk dalam aliran kognitif.
3.      Pembentukan perilaku dengan menggunakan model
Disamping cara-cara pembentukan perilaku diatas, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Pemimpin dijadikan model atau contoh bagi yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan oleh teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura (1977).
Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :
a.       Kesadaran (awareness), Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)
b.      Tertarik (interest), Dimana orang mulai tertarik pada stimulus
c.       Evaluasi (evaluation), Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d.      Mencoba (trial), Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
e.       Menerima (Adoption), Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
C. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
1.       Keturunan
Keturunan adalah pembawaan/karunia dari Tuhan YME. Keturunan sering disebut dengan pembawaan, heredity-teori Mendel ( yang dikenal dengan hipotesan genetika ) menyatakan bahwa :
a.       Tiap sifat makhluk hiddup dikendalikan oleh faktor lingkungan.
b.      Tiap pasangan merupakan penentu alternatif bagi keturunannya.
c.       Pada waktu pembebtukan sel kelamin, pasangan keturunan memahisah dan menerima pasangan faktor keturunan.
2.       Lingkungan
Lingkungan sering disebut miliu, environment atau nurture. Lingkungan  dalam pengertian psikologi adalah segala apa  yang berpengaruh pada diri individu dalam berperilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia.
Lingkungan dapat digolongkan :
a.       lingkungan manusia
Meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat dan termasuk didalamnya keudayaan, agama, taraf kehidupan.
b.      lingkungan benda
Benda yang terdapat disekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia yang disekitarnya.
c.       lingkungan geografis
lingkungan ini turut mempengaruhi corak kehidupan manusia. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai mempenyai keahlian, kegemaran dan kebudayaan yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah yang gersang.
3.       Emosi
Merupakan  konsep dasar dalam pembentukan perilaku. Perubahan perilaku manusia dapat ditimbulkan akibat kondisi emosi. Perubahan yang didasari memungkinkan mengubah sifat atau perilakunya. Emosi menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejalagejala kesadaran, keperilakuan, dan proses fisiologis. Bila orang yang Anda cintai menaemoohkan Anda, Anda akan bereaksi secara emosional karena Anda mengetahui makna vemoohan itu (kesadaran). Jantung Anda akan berdetak lebih cepat, kulit memberikan respons dengan mengeluarkan keringat, dan aapas terengah-engah (proses fisiologis). Anda mungkin membalas cemoohan itu dengan kata-kata keras atau ketupat bangkahulu (keperilakuan).
4.       Persepsi
Organisasi pengamatan membentuk perilaku yang berbeda karena pengamatannya berbeda. Pengalaman yang dihasilkan dari indra penglihatan, pendengaran, penciuman dsb, setiap orang memiliki persepsi yang berbeda meskipun obyeknya sama.
5.       Motivasi
Daya dorong , menjadi penguat terhadap perilakunya. Dorongan untuk bertindak guna mencapai suatu tujuan, sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan fisiologi, psikologi dan sosial.
6.       Belajar
Ketika orang sudah matang masa perkembangannya otomatis akan mempengaruhi perkembangan psikis seseorang. Kematangan dan perkembangan menampilkan kemampuan seseorang sesuai kebutuhannya.
7.       Intelegensi
Ketika seseorang mempunyai intelegensi tinggi akan memberikan keanggunan pada perilakunya. Kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
D. Faktor - Faktor lain yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
1.    Faktor BiologisFaktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudahdiprogram secara genetis dalam jiwa manusia.
2.    Faktor SosiopsikologisKita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
a.    Komponen Afektif
Merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannyadengan pembicaraan sebelumnya.
b.    Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
c.    Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
d.   Faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor-faktor situasionalini berupa:
1)      Faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
2)      Faktor temporal, misal keadaan emosi
3)      Suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
4)      Teknologi
5)      Faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu
6)      Lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya
7)      Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku
E. Macam-Macam Perilaku Manusia
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
1.        Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2.        Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
F. Hubungan penginderaan terhadap persepsi dan perilaku
Dalam proses belajar pasti ada objek yang akan dipelajari. Objek yang akan dipelajari harus dapat diindera dengan baik oleh alat indera. Sehingga dapat menyadari atau mempersepsi objek belajar tersebut. Tetapi berhasil atau tidaknya persepsi, tidak hanya ditentukan oleh alat indera. Melainkan juga faktor lain seperti kesiapan dalam menerima stimulus, kekuatan stimulus, atau faktor individu. Jika seseorang dapat mempersepsi objek yang dipelajari dengan benar maka tujuan dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan. Yang bermula dari stimulus yang diterima oleh penginderaan seseorang, maka akan menghasilkan persepsi dan berakhir dengan perilaku, atau kenyataan yang dilakukan oeh seserang tersebut. 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penginderaan adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil.
Perhatian adalah pemusatan energy psikis yang tertuju kepada objek –objek tertentu dan sangat dipengaruhi banyak atau tidaknya kesadaran yang menyertai aktivitas yang  dilakukan.
Pengamatan dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahiriah, maupun secara bathiniyah. Misalnya pengamatan seorang anak laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama dengan ibunya. Proses pengamatan ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar atau dengan sendirinya kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan dan kecendrungan.
 Setelah membahas masalah di atas, maka kami menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Penginderaan yang baik, besar kemungkinan akan menimbulkan persepsi yang benar.
2.      Persepsi yang benar tidak hanya dipengaruhi oleh penginderaan yang baik, tetapi juga dipengaruhi faktor lain seperti kesiapan, stimulus dan faktor individu.
3.      Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan


DAFTAR PUSTAKA
•    Herri Zan Pieter, Dr. Namora Lumongga Lubis., Pengantar Psikologi Unutk Kebidanan, Edisi Revisi. 2010.  Jakarta: PT.Fajar Interpratama Mandiri.
•    http://deszonewordpress.com/2009/05/18/penginderaan-persepsi-dan-persepsi-sosial/
•    Ahmadi, Abu. 2003. PSIKOLOGI UMUM. Jakarta: PT Rineka Cipta.
•    Bem, Darly J., dkk. TT. PENGANTAR PSIKOLOGI EDISI KESEBELAS JILID SATU. Batam: Interaksara.
•    https://www.scribd.com/doc/31132281/MAKALAH-psikologi-PRILAKU
•    http://duniapsikologi.dagdigdug.com
•    http://elisa.ugm.ac.id
•    http://syakira-blog.blogspot.com
•    http://www.surat-surat.com/2015/03/makalah-prilaku-konatif-psikologi-umum.html
•    https://agathahanny.wordpress.com/2008/11/28/penginderaan-dan-persepsi/
•    Jarvis, Matt. 2007. TEORI-TEORI PSIKOLOGI. Bandung: Nusamedia.
•    Sobur, Alex, 2009. Psikologi Umum. Pustaka Setia: Bandung.
•    Wardiana, Uswah. 2004. PSIKOLOGI UMUM. Jakarta: PT. Bina Ilmu
•    Walgito, Bimo, 2003. Pengantar Psikologi Umum. Andi: Yogyakarta.

makalah: DASAR-DASAR BIOLOGIS PERILAKU


DASAR-DASAR BIOLOGIS PERILAKU
BAB I
PENDAHULUAN
Tidak ada orang pada masa ini yang dapat mengaku tidak mengenal psikologi, psikologi telah menyentuh semua aspek kehidupan Anda. Perilaku, mulai dari mengedipkan mata sampai bermain tenis sampai menulis sebuah program computer, tergantung pada integrasi banyak proses yang terjadi dalam tubuh. Integrasi ini dilakukan oleh saraf dengan bantuan sistem endokrin.
Banyak aspek dari perilaku dan fungsi mental dapat dipahami secara lebih baik dengan mengetahui proses biologi dasar. Sistem saraf kita, organ indra, otot dan kelenjar memungkinkan kita mengetahui dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Persepsi kita terhadap peristiwa tergantung pada bagaimana organ indra mendeteksi stimuli dan bagaimana otak menginterpertasikan informasi yang datang dari organ indra tersebut. Banyak dari perilaku dimotivasi oleh kebutuhan tertentu seperti rasa lapar, rasa haus dan menghindari kelelahan atau nyeri. Kemampuan kita untuk menggunakan bahasa, untuk berpikir dan untuk memecahkan masalah tergantung pada otak yang sangat kompleks. Memang pola peristiwa listrik dan kimiawi spesifik di otak merupakan dasar dari proses berpikir yang paling rumit.
Otak kita hanya menyumbang sebesar dua persen dari keseluruhan berat tubuh, namun organ kecil ini merupakan organ yang benar-benar rumit, mengandung sekitar seratus miliar sel saraf. Belajar mengenai otak dapat benar-benar menarik, dalam arti sesungguhnya. Coba pikirkan. Organ menjadi pusat perhatian pada makalah ini adalah organ yang melakukan pekerjaan melihat, membaca, memahami, dan menyintesiskan bahan-bahan. Otak juga merupakan organ yang bertanggung jawab bagi penelitian. Dengan demikian, otak sekaligus pembelajaran. Anda dapat memandang “pikiran” Anda─pikiran yang mampu, misalnya, melakukan penelitian psikologi─sebagai sesuatu yang terpisah dari organ fisik berpenampilan aneh didalam tengkorak Anda. Ketika Anda memikirkan tentang berpikir, Anda mungkin melihatnya sebagai proses mental, bukan proses fisik. Namun berpikir merupakan peristiwa fisik didalam otak. Bahkan cara kita berpikir memiliki dampak pada aktivitas otak.
Jika suatu karakteristik diperlihatkan dengan beberapa struktur didalam otak, kita mungkin berpikir bahwa struktur otak pasti “menyebabkan” karakteristik itu. Yang paling signifikan otak sendiri dapat diubah oleh pengalaman.ketika Anda belajar keterampilan baru atau membuat suatu kebiasaan berpikir positif, sebenarnya Anda sedang membuka jalur otak yang baru. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai otak dan menelusuri dasar-dasar biologis yang penting dari perilaku manusia. Tujuan makalah ini adalah menerangkan tentang otak dan dasar-dasar biologis perilaku.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan, maka dapat di ambil beberapa rumusan masalah mengenai dasar-dasar biologis perilaku dalam psikologi, yaitu:
1.      Bagaimana pengaruh interaksi gen, evolusi, dan lingkungan terhadap perilaku?
2.      Bagaimana pengaruh sistem syaraf dan otak terhadap perilaku?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas. Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Adapun yang disebut tingkah laku mempunyai arti yang lebih kongkrit dari pada jiwa. Karena itu, maka tingkah laku lebih mudah dipelajari daripada jiwa dan melalui tingkah laku, kita dapat mengenal seseorang.
B.     Pengertian Biologis
Biologis yaitu proses-proses dan dinamika yang syaraf faali ( neural-fisiologis ) yang ada dibalik suatu perilaku. Sel-sel syafaf yang menghantar impuls-impuls dari sistem syaraf tepi ke sistem syaraf pusat disebut afferent; dan yang menghantar impuls-impuls dari sistem syaraf pusat ke sistem tepi disebut efferent. Sistem endokrin, yang terdiri dari rangkaian kelenjar ( glandula ) yang dapat mengeluarkan cairan kimiawi tertentu langsung ke dalam darah. Banyak sedikitnya cairan kimiawi ini, disebut hormon, sangat menentukan fungsi tubuh manusia dan akhirnya menentukan perilaku. Yaitu antara lain: Kelenjar Gondok ( thyroid ), Kelenjar pituitary, Kelenjar Adrenal, Kelenjar Kelamin, Kelenjar Pancreas.
C.    Komponen Sistem Saraf
1.      Sistem Saraf
Sistem saraf (nervous system) merupakan sirkuit komunikasi elektrokimia tubuh. Bidang yang mempelajari sistem saraf disebut neurosains (neurosince), dan orang yang mempelajarinya disebut ilmuwan neurosains (neuroscientist). Sistem saraf manusia terbuat dari miliaran sel saraf yang saling terhubung.
a.       Karakteristik
Unit dasar sistem saraf adalah suatu sel khusus yang dinamakan neuron. Penting untuk mengenali neuron karena mereka tidak diragukan menyimpan rahasia bagaimana otak bekerja. Kita juga mengetahui peran mereka dalam transmisi implus saraf, dan kita tahu bagaimana beberapa sirkuit neuron bekerja; tetapi kita baru mulai mengungkapkan fungsi yang lebih kompleks dalam memori, emosi, dan proses berpikir.
Empat karakter penting otak dan sistem saraf adalah kompleksitas, integrasi, adaptasi dan transmisi elektrokimia. Kemampuan khusus otak untuk beradaptasi dan berubah disebut plastisitas.

b.      Berbagai Jalur Dalam Sistem Saraf
Pengambilan keputusan dalam sistem saraf terjadi dalam jalur sel saraf yang khusus. Jalur-jalur ini terbuat dari saraf-saraf aferen, jejaring-jejaring saraf, dan saraf-saraf eferen.
Saraf aferen (afferent nerve), atau saraf sensoris membawa informasi menuju otak dan mengomunikasikan informasi mengenai lingkungan eksternal dan tubuh dari reseptor sensoris ked an seluruh otak.
Saraf eferen (efferent nerve) atau saraf motorik ini membawa informasi dari otak dan mengomunikasikan informasi dari otak ke tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnyayang memungkinkan seseorang terlibat dalam perilaku motorik.
Jejaring saraf ini mengintegrasikan masukan sensoris dengan keluaran motorik.

c.       Pembagian Sistem Saraf

Sistem saraf dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf ferifer. Sistem saraf pusat (SSP) (central nervous system─CNS) yang terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf ferifer (peripheral nervous system─PNS) memiliki dua bagian utama yaitu sistem saraf somatic (somatic nervous system) yang terdiri atas saraf sensoris yang berfungsi menyampaikan informasi dari kulit dan otot ke SSP. Dan sistem saraf otonom (autonomic nervous system) yang berfungsi membawa pesan-pesan ke dan dari organ internal tubuh untuk memantau pernapasan, detak jantung dan pencernaan. Sistem saraf otonom juga dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf simpatetis (sympathetic nervous system) yang menggugah tubuh dan sistem saraf parasimpatetis (parasympathetic nervous system) yang menenangkan tubuh.
Sistem somatik mengirimkan informasi tentang stimuli eksternal dari kulit, otot dan sendi ke sistem saraf pusat, mereka membuat kita menyadari nyeri, tekanan dan variasi temperatur. Saraf motorik dari sistem somatik membawa impuls dari sistem saraf pusat ke otot-otot tubuh dimana mereka memulai gerakan otot. Semua otot yang kita gunakan dalam membuat gerakan volunter (disadari) serta penyesuaian involunter (tidak disadari) dalam postur dan keseimbangan tubuh yang dikendalikan oleh saraf tersebut.
Syarat dari sistem otonomik berjalan menuju dan dari organ internal, sambil meregulasi proses tertentu seperti pernapasan, kecepatan denyut jantung dan pencernaan.

2. Neuron
a. Stuktur Sel Terspesialisasi
Neuron adalah sel yang khusus dalam mengolah informasi, ia membangun jejaring komunikasi sitem saraf. Sel gelia memberikan fungsi dukungan dan manfaat gizi dalam sistem saraf. Tiga bagian utama neuron adalah tubuh sel, dendrit (bagian penerima) dan akson (bagian pengirim). Selubung mielin membungkus dan menyekat sebagian besar akson dan mempercepat pemancaran impuls saraf.

Walaupun neuron memiliki perbedaan yang sangat jelas dalam ukuran dan penampilannya, mereka memiliki karakteristik tertentu. Menonjol dari tubuh sel adalah sejumlah cabang-cabang pendek yang dinamakan dendrit. Dendrit dan tubuh sel menerima impuls saraf dari neuron didekatnya. Pesan tersebut ditransmisikan ke neuron lain (atau ke otot dan kelenjar) oleh tonjolan lain yang ramping seperti tabung yang dinamakan akson. Pada ujungnya, akson bercabang-cabang menjadi sejumlah kolateral yang berakhir dalam suatu tonjolan kecil.

            b. Impuls Saraf
                        Neuron mengirim informasi pada sepanjang aksonnya dalam bentuk impuls atau gelombang listrik singkat. Potensial rehat merupakan muatan negative yang stabil dari neuron yang tidak aktif. Ketika sinyal listrik melebihi batas aktifasi tertentu, ion-ion natrium bermuatan positif mengalir ke neuron. Gelombang singkat muatan listrik positif yang memasuki akson disebut potensial aksi. Neuron kembali ke potensial rehat seiring ion-ion kalium bermuatan positif keluar, mengembalikan neuron pada muatan negative. Potensial aksi mematuhi prinsip semua-atau-tidak: kekuatannya tidak berubah selama transmisi.
Untuk bergerak dari satu neuron ke neuron lainnya, informasi harus diubah dari impuls listrik ke kurir kimia yang disebut neurotransmiter. Pada sinaps tempat bertemunya neuron, neurotransmitter dikeluarkan kecela sempit yang memisahkan mereka. Beberapa molekul neurotransmiter melekat pada tempat reseptor di neuron penerima, di neotransmiter dapat menjadi pembangkit atau penghambat, tergantung sifat impuls saraf. Neurotransmiter meliputi asetilkolin, GABA, norepinefrin, dopamine, serotonin, dan endorfin. Kebanyakan obat yang memengaruhi perilaku berfungsi meniru neurotransmiter atau penghambat aktivitas neurotransmiter.
D.    Struktur Otak dan Berbagai Fungsinya
a.       Saraf
Teknik utama yang digunakan untuk mempelajari otak adalah lesi otak, pewarnaan, perekaman listrik, dan pencitraan otak.

b.      Tingkat-tingkat Organisasi di dalam Otak
Ada tiga tingkat utama otak adalah otak belakang (hindbrain), otak tengah (midbrain), dan otak depan (forebrain). Otak belakang (hindbrain) adalah bagian terbawah otak. Tiga bagian otak belakang adalah medula (terlibat dalam mengendalikan pernapasan dan postur tubuh), serebelum (terlibat dalam koordinasi motorik), dan pons (terlibat dalam tidur dan tergugah).
Otak tengah (midbrain) meliputi formasi retikularis (reticular formation) yang terlibat dalam pola-pola perilaku tertentu (seperti berjalan dan tidur), dan sekelompok kecil neuron yang berkomunikasi dengan banyak wilayah di dalam otak. Batang otak (brain stem) terdiri atas banyak otak belakang (kecuali serebelum) dan otak tengah.
Otak depan (forebrain) merupakan tingkat tertinggi otak. Struktur pertama otak belakang adalah sistem limbik (limbic system), talamus (thalamus), ganglia basalis (basal ganglia), hipotamulus (hypothalamus), dan korteks serebrum (cerebral cortex). Sistem limbik terlibat dalam ingatan dan emosi melalui dua strukturnya, amigdala (yang memainkan peranan dalam berlangsungnya hidup dan emosi) dan hipokampus (berfungsi dalam penyimpanan ingatan). Talamus merupakan struktur otak depan yang berfungsi sebagai stasiun pemancar kembali yang penting untuk pengolahan informasi. Ganglia basalis merupakan struktur otak depan yang membantu mengendalikan dan mengordinakan gerakan-gerakan volunteer. Hipotamulus merupakan struktur otak depan yang memantau makanan, minuman, dan seks, mengarahkan sistem endokrin melalui kelenjar pituitari serta terlibat dalam emosi, stress, dan imbalan.

c.       Korteks Serebrum
Korteks serebrum meliputi sebagian besar lapisan luar otak yang berfungsi untuk berpikir dan berencana. Permukaan korteks serebrum dibagi menjadi jemisfer-hemisfer, tiap-tiapnya dengan empat lobus yaitu oksipital, temporal, fronta, dan parietal. Korteks somatosensorik mengolah informasi. Korteks motorik mengolah informani volunteer. Korteks asosiasi meliputi 75 persen korteks serebrum yang penting untuk mengintegrasikan informasi, terutama mengenai fungsi intelektual yang tinggi.

d.      Hemirfer Serebrum dan Penelitian Pemisahan Otak
Pokok bahasan yang controversial adalah tingkatan otak hemisfer kiri dan kanan yang terlibat dalam fungsi yang berbeda. Dua wilayah yang terlibat dalam hemisfer kiri dalam fungsi bahasa khusus adalah wilayah Broca (bicara) dan wilayah Wernicke (memahami bahasa). Korpus kalosum merupakan ikatan akson besar yang menghubungkan dua hemisfer otak. Dalam individu normal yang korpus kalosumnya lengkap, kedua hemisfer korteks serebrum terlibat dalam kebanyakan fungsi manusia yang kompleks.

e.       Integrasi Fungsi di dalam Otak
Secara umum, fungsi otak terintegrasidan melibatkan hubungan antara bagian-bagian otak yang berbeda. Jalur-jalur neuron yang terlibat dalam fungsi khusus, seperti ingatan, diintegrasikan sepenjang berbagai bagian dan tingkat otak.
E.     Sistem Endokrin
Kelenjar endokrin melepaskan langsung berbagai hormon ke aliran darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh. Kelenjar pituitari merupakan kelenjar induk. Kelenjar adrenal memainkan peranan penting dalam suasana hati, tingkat energy, dan kemampuan mengatasi stress.
F.     Kerusakan Otak, Plastisitas dan Pemulihan
a.       Plastisitas Otak dan Kapasitas untuk Perbaikan
Otak manusia memiliki banyak plastisitas, meskipun plastisitas ini lebih banyak dimiliki oleh anak-anak dibandingkan mereka yang lebih tua dalam perkembangannya. Otak dapat memperbaiki dirinya sendiri dengan menggunakan tiga cara yaitu penumbuhan cabang, substitusi fungsi, dan neurogenesis.
b.      Penanaman Jaringan Otak
Pencangkokan otak adalah penanaman jaringan sehat ke dalam otak yang rusak. Pencangkokan otak akan lebih behasil ketika jaringan janin digunakan.
G.    Genetika dan Perilaku
a.       Kromoson, Gen, dan DNA
Kromosom adalah struktur menyerupai benang yang muncul dalam 23 pasang, satu bagian dari tiap pasang berasal dari orangtua. Kromosom mengandung gen dan asam deoksiribonukleat (DNA). Kromosom mengandung zat luar biasa, yaitu asam deoksiribonukleat (deoxybonucleic acid) atau DNA, yang merupakan molekul kompleks yang membawa informasi genetika. Gen, unit informasi hereditas, adalah bagian pendek kromosom yang membentuk DNA. Prinsip gen dominan-resesif menyatakan, jika satu gen dari satu pasang adalah diminan dan yang lainnya adalah resesif, gen dominan mengambil alih gen resesif.

b.      Kajian Genetika
Dua konsep penting dalam kajian genetika adalah genotip dan fenotip. Genotip adalah bahan-bahan genetika individu yang sesungguhnya. Fenotip mengarah pada karakteristik seseorang yang dapat teramati.
Tiga metode pengkajian pengaruh hereditas adalah genetika molekul, pembiakan selektif, dan genetika perilaku. Dua metode yang digunakan oleh para ahli genetika perilaku adalah penelitian kembar dan adopsi.

c.       Gen dan Lingkungan
Gen dan lingkungan memiliki peranan penting dalam menentukan fenotip seorang individu. Bahkan untuk karakteristik dimana gen mamainkan peranan besar (seperti tinggi dan warna mata), lingkungan juga berperan didalamnya.
H.    Dasar-dasar Biologi Psikologi, Kesehatan, dan Kesejahteraan
a.       Stres dan Stresor
Stres adalah respons individu terhadap perubahan dalam lingkungan dan peristiwa yang mengancam kemampuan coping mereka. Stresor adalah meeka yang mengubah dirinya sendiri. Respons stres tubuh sebagian besar merupakan sistem aktivasi saraf simpatetis yang menyiapkan kita untuk bertindak ketika dihadapkan pada ancaman. Respons stres melibatkan perlambatan proses pemeliharaan (seperti fungsi kekebalan dan pencernaan kita) untuk mendukung tindakan yang cepat. Stres akut adalah respon adaptif, sedangkan stres kronis dapat memiliki konsekuensi negative untuk kesehatan kita. Meski respons stres terkadang tidak terhindarkan, tetapi respons tersebut merupakan suatu cara bagaimana kita memikirkannya.

b.      Mengelola Stres melalui Self-talk
Salah satu cara mengatasi stres adalah mengubah cara kita berpikir mengenai perubahan hidup yang penting. Kita dapat mencegah dan mengatasi stres dengan memodifikasikan pikiran, gagasan, dan keyakinan kita mengenai makna peristiwa hidup. Self-talk merujuk pada pembicaraan mental tanpa suarayang kita gunakan ketika kita berpikir, berencana, dan memecahkan masalah. Self-talk positif dapat menumbuhkan keyakinan yang membebaskan kita untuk menggunakan bakat kita secara maksimal.
I.       Daftar Istilah Penting

No
Istilah dalam bahasa Indonesia
Istilah dalam bahasa Asing
Pengertian Istilah
1.
Sistem saraf
Nervous system
Merupakan sirkuit komunikasi elektrokimia tubuh.
2.
Plastisitas
Plasticity
Merupakan pelambang kemampuan khusus otak untuk melakukan modifikasi atau perubahan.
3.
Saraf Aferen
Afferent Nerves
Merupakan saraf sensoris yang berfungsi membawa informasi menuju otak.
4.
Saraf Eferen
Efferent Nerves
Merupakan saraf motorik yang berfungsi mengonikasikan informasi yang berasal dari otak ke seluruh tubuh yang memungkinkan untuk terlibat dalam perilaku motorik.
5.
Jejaring Saraf
Neural Network
Merupakan sel saraf yang mengintegrasikan masukan sensoris dan keluaran motorik.
6.
Sistem Saraf Pusat
Central Nervous System
Terdiri atas otak dan sumsum tulanng belakang serta tempat sel saraf berada.
7.
Sistem Saraf Ferifer
Peripheral Nervous System
Merupakan jejaring saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang ke bagian tubuh lainnya.
8.
Stres
Stress
Merupakan respons individu terhadap perubahandalam lingkungan dan peristiwa yang mengancam kemampuan meniru yang dimiliki oleh individu.
9.
Stresor
Stressor
Merupakan lingkungan atau peristiwa yang mengancam kemampuan meniru individu.

KESIMPULAN
Gen merupakan unit dasar dari hereditas yang terletak dalam kromosom. Jumlah kromosom seutuhnya 46 kromosom. Semua gen yang kurang lebih berkisar 25.000 bersama-sama membentuk genom manusia. Sejumlah gen berpengaruh terhadap suatu sifat tertentu dan sejumlah gen lainnya berpengaruh secara tidak langsung dengan cara mengaktifkan atau menghentikan kerja gen lain sepanjang hidup seseorang.
            Seleksi alam juga merupakan salah satu faktor terciptanya gen-gen spesies baru, karena untuk bertahan terhadap suatu lingkungan individu memerlukan sebuah sifat-sifat genetis yang adaptif. Jadi melalui reproduksi gen-gen mereka akan terseleksi dari generasi ke generasi dan menyebar ke seluruh spesies.
Beberapa hal yang berhubungan dengan gen, evolusi dan lingkungan:
1.      Kesamaan genetis
2.      Keragaman (variasi) genetis
3.      Pembawaan (nature) dan lingkungan (nurture)
Sistem saraf:
1.      Sel saraf atau neuron   : blok bangunan dasar otak yang menyusun sistem saraf.
a.      Neuron motor
b.      Neuron sensor
c.      Neuron konektor
2.       Sistem saraf perifer     : menangani pesan informasi yang masuk dan keluar dari sistem          saraf pusat. Sistem saraf perifer terdiri dari dua bagian, yakni somatik dan autonomik.
3.      Sistem saraf pusat       : menerima, memproses, menginterpretasikan, dan menyimpan
informasi sensoris yang datang seperti informsdi tentang rasam, suara, bau, warna.
Otak:
1.      Batang otak     : mengendalikan perilaku dalam yang tidak dikendalikan secara sadar
2.      Cerebelum       : memelihara keseimbangan dan penampilan kemampuan melakukan suatu kegiatan.
3.     Talamus        : penghubung bagi jalan saraf dari dan ke korteks.
4.     Hipotalamus  : motivasi perilaku dalam bertahan hidup, misal haus, lapar
5.      Amigdala        : evaluasi awal terhadap informasi sensorik untuk menentukan kepentingan
6.      Hipokampus   : perbandingan informasi sensorik dengan harapan-harapan, pembentukan baru tentang fakta
7.      Serebrum        : pusat letak kendali perilaku kecerdasan. Terbagi menjadi 4 bagian: lobus oksipital, lobus parietal, lobus temporal, lobus frontal.
DAFTAR PUSTAKA
·         Atkinson & Hilgard, Edward  E. Smith dkk. 2006. Introduction to Psychology.14th edition. USA. Thomson, Wadsworth,

·         King, Laura. 2010. Psikologi Umum : Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta : Salemba Humanika

·         http://12013pus.blogspot.co.id/2013/06/dasar-dasar-biologis-perilaku.html

 
biz.